Padi Gogo Inpago 13 Fortiz: Keunggulan, Budidaya, dan Harga Benih Terbaru

Petani Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar akibat perubahan iklim global yang memicu ancaman kekeringan di berbagai wilayah pertanian nasional. Musim kemarau panjang kerap mengurangi ketersediaan air irigasi teknis secara drastis, sehingga risiko kegagalan panen padi sawah semakin meningkat. Padi Gogo Inpago 13 Fortiz: Keunggulan, Budidaya, dan Harga Benih Terbaru

Baca juga: Keunggulan dan Kekurangan Padi Sertani 13 dan Sertani 13a

Seiring dengan kondisi kekeringan tersebut, masyarakat pedesaan juga masih berjuang melawan masalah kekurangan gizi mikro seperti kekerdilan atau stunting. Data kesehatan menunjukkan bahwa balita di berbagai daerah membutuhkan asupan nutrisi zinc dan protein yang lebih mencukupi.   

Di tengah dua himpitan tersebut, Kementerian Pertanian Republik Indonesia merancang langkah terobosan untuk mengoptimalkan potensi lahan kering dan tadah hujan. Para peneliti memfokuskan perhatian pada pengembangan padi gogo yang tidak hanya tahan kekeringan, tetapi juga kaya gizi mikro. Inovasi inilah yang melahirkan varietas padi gogo unggul bernama Inpago 13 Fortiz sebagai solusi pangan masa depan.   

Identitas Genetik Inpago 13 Fortiz

Langkah awal pelepasan varietas ini bermula dari kerja keras tim pemulia tanaman di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Para peneliti mengombinasikan karakter padi lokal yang tangguh dengan padi unggul yang berproduksi tinggi melalui metode pemuliaan konvensional.   

  • Nama Varietas Resmi: Inpago 13 Fortiz (Inbrida Padi Gogo 13 Fortifikasi Zinc).   
  • Tim Peneliti Utama: Aris Hairmansis, Yulianida, Rini Hermanasari, Angelita P. Lestari, Supartopo, dan Suwarno.   
  • Lembaga Pemulia: Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.   
  • Nomor Seleksi Pemuliaan: B12498F-MR-1-6.   
  • Silsilah Persilangan: IR68886/BP68*10//Selegreng///Maninjau/Asahan.   
  • Legalitas Pelepasan: Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 990/HK.540/C/11/2020 pada bulan November 2020.   
  • Metode Pemuliaan: Biofortifikasi pemuliaan tanaman (plant breeding) untuk meningkatkan akumulasi nutrisi alami tanpa rekayasa genetik asing.   

Ciri-ciri Morfologi dan Karakteristik Fisiologi Tanaman

Tanaman ini memperlihatkan sosok yang tegap dan kokoh saat tumbuh di hamparan lahan kering. Postur morfologinya dirancang khusus agar mampu bertahan dari terpaan angin dan terik matahari.   

  • Tinggi Tanaman: Rata-rata mencapai 124 cm dengan arsitektur batang yang tegak.   
  • Bentuk dan Orientasi Daun: Daun bendera miring sehingga efektif menangkap sinar matahari untuk fotosintesis.   
  • Umur Berbunga: Memasuki fase berbunga 50% pada umur ±90 hari setelah semai.   
  • Umur Panen (Matang Fisiologis): Siap dipanen secara penuh pada umur ±114 hari.   
  • Jumlah Bulir Gabah: Menghasilkan rata-rata 136 butir gabah isi pada setiap malai.   
  • Bentuk dan Warna Gabah: Gabah berbentuk sedang dengan warna kuning jerami yang bersih saat matang.   
  • Bobot Gabah: Bobot 1.000 butir gabah mencapai kisaran 24,6 gram.   
  • Kualitas Nasi: Memiliki kadar amilosa ±21,56% yang menghasilkan tekstur nasi medium beraroma segar.   

Kelebihan Padi Inpago 13 Fortiz

Varietas Inpago 13 Fortiz membawa angin segar bagi para petani lahan gogo karena menawarkan serangkaian keunggulan teknis dan kesehatan.   

  • Kandungan Zinc Tinggi: Mengakumulasi kandungan Zinc sebesar ±34 ppm pada beras pecah kulit untuk mencegah stunting.   
  • Kadar Protein Melimpah: Mengandung kadar protein mencapai 9,83% yang membantu pemenuhan gizi keluarga.   
  • Efisiensi Penggunaan Air: Menghemat penggunaan air irigasi hingga 50% dibandingkan sistem tanam padi sawah.   
  • Toleransi Kekeringan Abiotik: Mampu bertahan hidup dan pulih kembali saat menghadapi fase cekaman kekeringan vegetatif.   
  • Toleran Tanah Masam: Agak toleran terhadap keracunan Alumunium hingga konsentrasi 40 ppm di lahan Podsolik.   
  • Ketahanan Penyakit Blas: Tahan terhadap penyakit jamur blas (Pyricularia oryzae) ras 073 dan 133, serta agak tahan ras 001, 013, 023, 041, 051, dan 173.   
  • Potensi Hasil Tinggi: Menghasilkan rata-rata 6,53 ton per hektar GKG dengan potensi puncak mencapai 8,11 ton per hektar.   

Kekurangan Padi Inpago 13 Fortis

Meskipun menyimpan banyak keunggulan, para petani tetap perlu mewaspadai beberapa keterbatasan biologis tanaman ini selama masa pertumbuhan.   

  • Kerentanan Hama Wereng: Berstatus agak rentan terhadap hama Wereng Batang Cokelat (WBC) biotipe 2 dan biotipe 3.   
  • Sensitif Kompetisi Gulma: Membutuhkan penyiangan intensif pada 30 hari pertama karena tidak tergenang air.   
  • Kerentanan Ras Blas Tertentu: Menunjukkan sifat agak rentan terhadap pergeseran mutasi ras patogen lokal spesifik.   
  • Kebutuhan Unsur Organik: Memerlukan pasokan bahan organik yang cukup agar daya simpan air tanah tetap terjaga.

Potensi Hasil Usaha Tani, Harga Benih, dan Pasar

Pengembangan varietas ini membuka peluang ekonomi yang menjanjikan bagi kelompok tani dan pengusaha perbenihan di berbagai daerah.   

  • Harga Benih Eceran (1 kg): Dijual pada kisaran Rp 30.000 hingga Rp 50.000 per kg di pasaran.   
  • Harga Benih Kemasan Grosir (5 kg): Dipasarkan seharga Rp 125.000 hingga Rp 250.000 per kantong.   
  • Kebutuhan Benih Per Hektar: Membutuhkan sekitar 40 kg benih untuk sistem tanam monokultur.   
  • Investasi Modal Benih: Memerlukan biaya pengadaan benih awal sebesar Rp 1.200.000 hingga Rp 1.800.000 per hektar.   
  • Proyeksi Hasil Panen Rata-rata: Menghasilkan 6,53 hingga 7,20 ton Gabah Kering Giling (GKG) per hektar.   
  • Estimasi Pendapatan Kotor: Mampu meraih pendapatan Rp 45.700.000 hingga Rp 61.200.000 per hektar dengan asumsi harga GKG Rp 7.000 – Rp 8.500/kg.
Indikator Ekonomi & Usaha TaniProyeksi Nilai SatuanKeterangan Operasional
Kebutuhan Benih / Ha40 kgMetode tanam tugal
Harga Benih BersertifikatRp 30.000 – Rp 50.000 / kgKelas Benih Sebar (ES)
Rata-rata Hasil GKG6,53 ton / haHasil rata-rata nasional
Potensi Hasil Maksimal8,11 ton / haOptimalisasi GAP & Pupuk Hayati
Estimasi Pendapatan KotorRp 45.710.000 – Rp 61.200.000Penjualan tingkat petani

Tahapan Budidaya Presisi dari Penanaman Hingga Pemanenan

Untuk meraih hasil panen yang melimpah, petani perlu menerapkan tata cara budidaya yang runtut dan presisi.   

Tahap 1: Pengolahan Tanah dan Pengondisian Lahan

Petani mengolah tanah sedalam 20 cm menggunakan bajak atau cangkul sekitar 3 minggu sebelum penanaman. Jika pH tanah berada di bawah angka 5,5, petani menyebarkan kapur Dolomit sebanyak 1 hingga 2 ton per hektar. Petani juga mencampurkan pupuk kandang sebanyak 2 hingga 3 ton per hektar sebagai pembenah struktur tanah.   

Tahap 2: Penanaman dan Pengaturan Jarak Tanam

Petani menanam benih langsung dengan teknik tugal setinggi 3 hingga 5 cm dari permukaan tanah. Setiap lubang tanam diisi dengan 5 hingga 8 butir benih lalu ditutup tanah tipis. Petani sangat disarankan menerapkan Sistem Jajar Legowo 2:1 (20×10×30 cm) atau Legowo 4:1 untuk memperbanyak jumlah populasi tanaman.   

Sistem Jajar Legowo 2:1
 ── X ──── 20 cm ──── X ───────── 30 cm (Garis Lorong) ───────── X ──── 20 cm ──── X ──
   10 cm             10 cm                                       10 cm             10 cm
 ── X ─────────────── X ───────────────────────────────────────── X ─────────────── X ──

Tahap 3: Pemupukan Berimbang dan Aplikasi Biofertilizer

Petani memberikan pupuk kimia secara bertahap sesuai dengan umur pertumbuhan tanaman di lapangan:   

  1. Pupuk Dasar (0–3 HST): Dosis 100 kg SP-36 dan 50 kg KCl per hektar dimasukkan ke dalam alur tanam.   
  2. Pemupukan Susulan I (10–15 HST): Dosis 100 kg Urea per hektar diberikan bersamaan dengan kegiatan penyiangan gulma.   
  3. Pemupukan Susulan II (30–45 HST): Dosis 100 kg Urea dan 50 kg KCl per hektar diberikan pada fase primordial.   
  4. Inokulasi Hayati: Petani menyemprotkan konsorsium bakteri pelarut zinc agar serapan nutrisi tanah semakin optimal.   

Tahap 4: Pengendalian Hama dan Pemeliharaan

Petani membersihkan gulma secara manual pada umur 10 dan 30 hari setelah tanam. Petani memantau keberadaan hama wereng cokelat secara rutin setiap minggu pada bagian pangkal batang. Jika serangan jamur blas muncul, petani mengaplikasikan fungisida berizin secara bijak.   

Tahap 5: Pemanenan dan Pascapanen

Petani memanen tanaman ketika seluruh malai telah menguning pada umur ±114 hari setelah tanam. Petani merontokkan gabah secara langsung lalu mengeringkannya di bawah sinar matahari hingga kadar air mencapai 14%.   

Rekam Jejak Keberhasilan dan Lokasi Uji Coba Lapangan

Keandalan Inpago 13 Fortiz telah terbukti nyata melalui berbagai program percontohan di seluruh wilayah Indonesia.   

  • Subak Ubung, Kota Denpasar, Bali:
    • Waktu Pelaksanaan: Panen evaluasi pada tanggal 15–16 Oktober 2025.   
    • Pelaksana Utama: Dinas Pertanian Kota Denpasar (Kabid Tanaman Pangan IGAN Anggreni Suwari) bersama Pekaseh Dewa Gede Suma Putra.   
    • Hasil Ubinan: Meraih hasil panen 9,3 ton per hektar GKG pada hamparan lahan percontohan seluas 50 are.   
    • Dampak: Mampu menghemat air hingga 50% serta menuntaskan target Luas Tambah Tanam kota.   
  • Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat:
    • Waktu Pelaksanaan: Dimulai sejak tahun 2022 hingga Musim Tanam I (MT1) tahun 2024.   
    • Pelaksana Utama: Koordinator Penyuluh Ubuh Bukhori bersama Dinas Pertanian Bekasi dan off-taker CV Warga Mandiri.   
    • Hasil Ubinan: Menghasilkan 7,0 ton/ha pada tahun 2022 dan meningkat menjadi 7,2 ton/ha pada tahun 2024.   
    • Dampak: Menjadi varietas andalan petani pada lahan tadah hujan karena tahan terhadap busuk leher.   
  • Kabupaten Subang, Jawa Barat:
    • Waktu Pelaksanaan: Penelitian riset lapang pada tahun 2023.   
    • Pelaksana Utama: Tim Peneliti Mikrobiologi Tanah pada tanah Inceptisol.   
    • Hasil Ubinan: Pengaplikasian bakteri pelarut zinc meningkatkan produktivitas sebesar 5,6% dan kadar zinc bulir menjadi 40,3 mg/kg.   
  • Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, Papua:
    • Waktu Pelaksanaan: Program perbenihan tahun 2023–2024.   
    • Pelaksana Utama: Balai Penerapan Standardisasi Instrumen Pertanian Papua.   
    • Hasil: Mengembangkan benih sumber kelas Foundation Seed (FS) untuk mendukung swasembada benih lokal.   
  • Lairngangas, Nusa Tenggara:
    • Waktu Pelaksanaan: Kegiatan panen benih tahun 2023.   
    • Pelaksana Utama: Kelompok Tani Mandiri Sejahtera pada lahan 0,4 hektar.   
    • Hasil: Menghasilkan 1,6 ton gabah berkualitas yang disiapkan penuh sebagai benih sebar.   

Kesimpulan

Kehadiran varietas padi gogo Inpago 13 Fortiz membawa harapan besar bagi kemajuan sektor pertanian nasional. Padi Gogo Inpago 13 Fortiz: Keunggulan Budidaya dan Harga Benih Terbaru

  • Solusi Ganda: Menjawab tantangan kekeringan sekaligus mengatasi masalah stunting anak melalui ketersediaan beras kaya zinc (34 ppm).   
  • Kapasitas Produksi: Menghasilkan potensi panen tinggi hingga 8,11 ton per hektar di lahan sub-optimal.   
  • Efisiensi Sumber Daya: Menghemat konsumsi air irigasi hingga 50% dibanding padi sawah irigasi.   
  • Kelayakan Usaha: Memberikan tingkat keuntungan ekonomi yang menjanjikan bagi para petani.   
  • Rekomendasi Utama: Petani perlu menerapkan panduan budidaya presisi agar potensi genetik tanaman terealisasi secara maksimal.   

Daftar Pustaka

  1. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. (2020). Deskripsi Varietas Unggul Baru Padi Gogo Inpago 13 Fortiz. Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia.   
  2. Dinas Pertanian Kota Denpasar. (2025). Padi Gogo Varietas Inpago 13 Fortis Hasilkan 9,3 Ton/Ha di Subak Ubung. Laporan Kegiatan Lapangan.   
  3. Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi. (2024). Hasil Panen Melimpah, Kecamatan Bojongmangu Kembangkan Padi Inpago 13. Diskominfosantik Kabupaten Bekasi.   
  4. Hairmansis, A., Yulianida, Hermanasari, R., Lestari, A. P., Supartopo, & Suwarno. (2023). Advances in the development of rice varieties with better nutritional quality in Indonesia. Journal of Agriculture and Food Research, 12, 100602.   
  5. Hairmansis, A., & Widyastuti, Y. (2018). Development of tolerant rice varieties for stress-prone ecosystems in the coastal deltas of Indonesia. ResearchGate Publication.   
  6. Habiburrahman, et al. (2024). Application of indigenous zinc-solubilizing bacteria in biofertilizers to enhance zinc nutrition of rice grains in Inceptisols paddy fields. Journal of Agricultural Science.   
  7. Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2020). Keputusan Menteri Pertanian Nomor 990/HK.540/C/11/2020 tentang Pelepasan Varietas Padi Gogo Inpago 13 Fortiz. Jakarta: Kementan.